inspired by Reruntuh’s song, Genggam:

Genggam

genggamanmu tak hanya hangat, namun juga menguatkan.

di petang hari, kamu menemukanku yang bersembunyi di kolong meja. seperti paham, kamu melontarkan kalimat yang meyakinkanku bahwa ini semua akan selesai. aku tak ingin keluar sebab hanya disana aku merasa bisa bertahan. kamu ikut duduk, menenangkan dengan genggaman di kedua tangan. dalam diam, kamu membisikkan ribuan doa, meminta tolong ke pemilik semesta untuk membantu semesta kecilmu. aku masih duduk dan tak hentinya terisak, meski lelah, meski sudah ada damai sejak kamu ada.

“kita coba tunggu sebentar ya? setengah jam? kamu dengerin dan yakinkan dirimu bareng aku disini.”

setelah pintamu memecah keheningan, aku masih menangis kecil. namun ajaibnya, beban yang kecil-kecilan itu, perlahan ringan terangkat.

di hitungan menit dan detik, tangisan itu memudar dan hilang bentuk airnya.

kamu tak bertanya. yang kamu lakukan sejak tadi adalah duduk bersamaku. menggenggam erat kedua tanganku sambil terus mengumandangkan doa yang tak benar-benar memecah keheningan. maafkanlah, bantulah, mudahkanlah, kuatkanlah, dan banyak sekali kata-kata yang kamu pinta spertinya agar aku lekas keluar dari terowongan kesedihan yang gelap dan sperti tak berkesudahan.

aku menatapmu perlahan. kamu pun akhirnya memecah keheningan, bertanya apakah aku perlu waktu tambahan, berjaga-jaga dengan lembaran tisu yang kamu usapkan ke pelupuk mata dan pipi. aku menggeleng, bergerak kecil untuk memelukmu erat sperti genggaman tadi. sedikit banyak, kamu mengenalkan aku pada perasaan-perasaan sedihku. hingga aku yakin bahwa aku sejak pertama tak pernah sendirian.

pintamu dalam pelukan itu sama hangatnya, membujuk agar tak menghadapi apapun sendirian, menyebutkan kamu sebagai sandaran untukku.

“jangan dihadapi sendirian, kamu punya aku untuk jadi pegangan.” pintamu pelan-pelan ketika aku perlahan melepas pelukku dari tubuhmu.

tak ada balasan untuk pintamu sebab aku mengetahui betapa besar bentuk sayang yang kan kau beri.

“mungkin suatu hari nanti, aku tidak ada untuk menjadi pegangan. selalu ingat bahwa kamu punya banyaaak sekali sahabat baik untuk menolong ya.”

aku hanya mengangguk dan membiarkan air di pelupuk mata itu jatuh untuk terakhir kalinya hari ini. mungkin saja benar, genggaman tadi memberikan kenangan yang memadat menjadi ingatan yang mengharukan.

alhamdullilah.