tulisan ini ditulis 31 mei 2024 dalam draf acak dan dipublikasi 18 juli 2025.
Sebenarnya, aku selalu ingin mengucapkan terima kasih paling besar untuk kamu. Melihat diriku bisa sampai di titik ini (atau bahkan lebih jauh di masa depan nanti) membuatku menyadari bahwa aku banyak belajar tentang hidup dari kamu. Ketika aku pikir hidup akan selalu ada masalah dan tidak ada solusi untuk itu, kamu pernah dan tidak hanya sekali memberitahukan bahwa akan selalu ada solusi meski bentuknya adalah kemudahan yang sering aku anggap remeh. Ketika aku pikir hidup selalu lebih baik sendirian (karena kalau bersama orang lain rasanya aku terlalu merepotkan dan direpotkan), ada hadirnya kamu yang diam-diam menyadarkanku bahwa tidak sendirian juga sama baiknya dengan sendirian. Syukurlah yaa.
Aku masih takut kalau disuruh memahami bahwa semua orang akan datang dan pergi, termasuk kamu. Tapi, lagi-lagi, kamu bilang kalau perginya orang-orang juga berarti mereka menemukan hidup yang terbaik versi mereka sendiri dan itu tidak apa-apa, sebab aku pun juga menginginkan hidup yang terbaik untuk diriku sendiri kan?
Katamu, sedih itu tidak masalah, selama aku tau kapan harus kembali on track dan menyimpan baik-baik kenangan yang ada itu di masa lalu. Aku bersyukur lagi karena aku akhirnya belajar untuk tidak menggenggam tanganmu terlalu erat, khawatir dua hal, aku nanti kebingungan saat tidak ada tanganmu untuk digenggam dan kamu sakit karena genggamanku membuat luka-luka.
Kalau ada hari paling buruk di dunia, sepertinya kamu adalah orang yang diam-diam kuingat sebab kamulah orang yang menunjukkan aku tentang kebaikan. Aku selalu bisa menunggu sehari lagi untuk menantikan hari cerah meski hari ini sedang deras-derasnya hujan. Kalau tidak sabar, aku selalu bisa menunggu sekedar lima menit lagi untuk menyadari kuatnya kakiku saat sedang jalan-jalan di luar. Sebenarnya, kalau aku ingin menyerah, aku hanya perlu bersabar (seperti yang kamu bilang, kalau bersabar tentunya ada sesuatu yang aku sadari nantinya).
Setiap hari, aku menemukan diriku yang bersyukur karena Tuhan memberiku rezeki selain tetap hidup, tapi juga kamu. Dengan kamu, aku merasa bahagia karena bisa terus menerus bersyukur, sebab aku bisa diam-diam menemukan diriku mengucap langsung maupun tidak langsung, “Terima kasih karena menghadirkan rezeki dalam banyak bentuk di hidupku, Tuhan”.
Kamu yang terus menerus bilang padaku bahwa tanpa bantuan Tuhan, mungkin saja tidak ada kamu di hidupku. Jadi, aku akan terus menerus bersyukur karena Tuhan menghadirkan kamu untuk aku. Semoga ketika hal paling baik sudah datang, baik aku maupun kamu tetap bisa saling menceritakan itu ya.
Lagi-lagi, terima kasih, Tuhan.
properti foto sampul oleh Taylor Cole melalui Unsplash.